Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Political Review
(IPR), Iwan Setiawan, memberikan nilai nyaris sempurna terhadap Pidato
Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto, dalam Sidang Bersama MPR RI, DPR RI, dan
DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026. Menurut Iwan, pidato Presiden Prabowo kali ini
bukan sekadar pidato politik, melainkan laporan pertanggungjawaban politik
kepada rakyat, yang ditopang oleh sejumlah capaian konkret, dan angka-angka
kinerja pemerintahan.
“Saya memberikan nilai 99,9. Ini bukan karena pidatonya
bagus secara retorika saja, tetapi karena Presiden mampu menunjukkan bahwa
kebijakan pemerintah mulai menghasilkan angka-angka yang terukur. Ada output,
ada outcome, dan ada arah yang jelas,” ujar Iwan Setiawan dalam keterangan
tertulis, Jumat, 14 Agustus 2026.
Iwan juga menilai, pidato Presiden kali ini jauh dari kesan
blunder maupun kata-kata, dan kalimat kontroversial yang menimbulkan polemik di
publik. Salah satu hal yang menjadi sorotan Iwan adalah, perbaikan kinerja
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Setelah dilakukan koreksi dan pembenahan laporan, laba BUMN
tahun 2024 tercatat sekitar Rp186 triliun. Kemudian pada 2025, laba BUMN
meningkat menjadi sekitar Rp326 triliun, atau tumbuh sekitar 75,3 persen.
“Kenaikan laba BUMN dari Rp186 triliun menjadi Rp326
triliun, menunjukkan adanya perbaikan tata kelola dan efisiensi yang
signifikan. Ini bukan angka kecil. Ini menunjukkan aset negara dapat dikelola
lebih produktif,” katanya.
Pada sisi penerimaan negara, dividen BUMN tahun 2024
mencapai Rp85,5 triliun. Iwan menilai, angka itu memperlihatkan BUMN tidak
hanya diposisikan sebagai korporasi negara, tetapi juga sebagai instrumen untuk
memperkuat kapasitas fiskal, dan pembangunan nasional.
Menurut Iwan, pesan penting lain dari pidato Presiden
adalah, keberanian pemerintah melakukan koreksi terhadap data, tata kelola.
Serta kinerja institusi negara.
“Presiden sedang membangun budaya pemerintahan, yang tidak
boleh puas dengan angka di atas kertas. Kalau ada yang perlu dikoreksi,
dikoreksi. Kalau ada kebocoran, ditutup. Kalau ada aset negara yang tidak
produktif, harus dioptimalkan,” kata Iwan.
Karena itu, menurutnya, ukuran keberhasilan pemerintahan
Prabowo, tidak boleh hanya dilihat dari popularitas kebijakan. Tetapi dari
peningkatan penerimaan, efisiensi anggaran, produktivitas BUMN, penciptaan
lapangan kerja, dan manfaat yang diterima masyarakat.
Iwan juga menilai, program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus
ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, terhadap kualitas sumber daya
manusia Indonesia. Menurutnya, kebijakan itu memiliki dimensi yang jauh lebih
besar, dibanding sekadar pemberian makanan kepada anak sekolah.
“MBG adalah investasi manusia. Pemerintah sedang mencoba
memutus rantai masalah stunting, kekurangan gizi, rendahnya kualitas kesehatan
anak, sekaligus menciptakan multiplier effect bagi petani, nelayan, peternak,
UMKM, koperasi dan ekonomi daerah,” katanya.
Iwan melihat benang merah pidato Presiden Prabowo, adalah
gagasan mengenai kemandirian nasional. Kemandirian itu tercermin dalam dorongan
terhadap industrialisasi, hilirisasi, penguatan BUMN, ketahanan pangan, energi,
serta pengembangan industri nasional.
Menurut Iwan, arah itu relevan dengan tantangan geopolitik,
dan ekonomi global yang semakin tidak pasti. Iwan menegaskan, pidato kenegaraan
tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Pidato itu harus menjadi
baseline, untuk mengukur kinerja pemerintah pada tahun berikutnya.
Iwan menyimpulkan kekuatan utama pidato Presiden Prabowo,
adalah kombinasi antara visi besar Indonesia, dan angka-angka capaian yang
konkret. “Saya beri 99,9, bukan 100. Karena dalam politik dan pemerintahan
tidak ada ruang untuk cepat puas. Masih ada pekerjaan rumah. Tetapi 99,9
menunjukkan bahwa arah pemerintahannya jelas, keberaniannya ada, dan hasilnya
mulai terlihat dalam angka,” ucap Iwan.
Menurut IPR, tantangan terbesar setelah pidato itu adalah
memastikan, seluruh capaian yang disampaikan Presiden dapat dipertahankan,
ditingkatkan, diverifikasi secara transparan. Dan benar-benar dirasakan
masyarakat.

Kolom Komentar Pembaca
Tuliskan tanggapan Anda mengenai berita ini: