Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan
ketersediaan air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten masih
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat serta mendukung suplai
air irigasi ke Daerah Irigasi (D.I.) Ciujung selama musim kemarau.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pengelolaan sumber daya
air harus mampu menjamin ketersediaan air bagi masyarakat sepanjang tahun,
terutama pada periode musim kemarau.
"Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan
dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan
pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan yang optimal, kami
memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan," kata
Menteri Dody.
Bendungan Karian melepaskan debit air sebesar 24 m3/detik
sebagai suplesi irigasi dari intake Bendungan Karian menuju Bendung Gerak
Pamarayan Baru untuk melayani D.I. Ciujung. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan
air bagi lahan pertanian di wilayah layanan tetap dapat terpenuhi.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian
(BBWS C3) Dedi Yudha Lesmana mengatakan dinamika tampungan air Bendungan Karian
yang mengalami penurunan elevasi muka air sehingga sebagian area daratan lama
kembali terlihat merupakan kondisi yang wajar pada musim kemarau dan tidak
mengganggu fungsi bendungan sebagai penyedia air baku, layanan irigasi, maupun
pengendali banjir.
"Tampungan Bendungan Karian masih aman untuk memenuhi
kebutuhan air baku maupun irigasi. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter
dari elevasi normal merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau dan
masih berada dalam batas aman operasi waduk," kata Dedi.
Terkait munculnya kembali bangunan lama di area genangan,
Dedi menjelaskan bahwa bangunan tersebut merupakan bekas permukiman di Desa
Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Lokasinya berada
di bagian hulu bendungan pada elevasi di atas +64,50 meter dan berjarak sekitar
16 kilometer dari as bendungan. Sehingga meskipun muka air waduk berada pada
elevasi normal, sebagian lahan maupun bangunan tersebut akan kembali terlihat
ketika muka air mengalami penurunan karena memang hanya tergenang
sebagian.
Seluruh lahan pada area genangan Bendungan Karian telah
dibebaskan sesuai ketentuan pada saat pembangunan bendungan. Namun, pekerjaan
konstruksi hanya melakukan pembersihan vegetasi (clearing), sementara tidak
seluruh bangunan eksisting dibongkar (demolition). Kondisi tersebut menyebabkan
sisa bangunan dapat kembali terlihat ketika muka air waduk surut secara alami
pada musim kemarau.
BBWS C3 memastikan akan terus melakukan pemantauan kondisi
hidrologi serta mengoperasikan Bendungan Karian sesuai pola operasi waduk yang
telah ditetapkan agar kondisi tampungan air tetap dapat memenuhi kebutuhan air
masyarakat selama musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga
Agustus mendatang.
Pengelolaan Bendungan Karian yang tetap optimal selama musim kemarau ini merupakan implementasi nyata semangat PU608, ketersediaan air baku bagi masyarakat serta layanan irigasi bagi lahan pertanian yang tetap terjaga menunjukkan bahwa infrastruktur Kementerian PU tidak hanya dibangun sebagai aset fisik, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga ketahanan pangan, mendukung aktivitas ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim

Kolom Komentar Pembaca
Tuliskan tanggapan Anda mengenai berita ini: